Suku bangsa

Sistem kemasyarakatan dan perekonomian suku Sunda

Sistem kemasyarakatan Suku Sunda sangat erat dengan kehidupan ekonominya. Di sini ada 3 unit sosial yang menjadi pusat kehidupan ekonomi, yaitu : kota, desa dan daerah perkebunan. Struktur masyarakat kota dan perekonomiannya tidak berbeda dengan kota-kota lain di pulau Jawa, yaitu masyarakatnya Gesellschaft dengan mata pencaharian utama pada sektor : perdagangan, industri, jasa, pertukangan dan […]

Sistem religi suku Minangkabau

Pada prinsipnya orang Minangkabau menganut agama Islam. Maka bila ada orang Minangkabau yang tidak memeluk agama Islam adalah suatu keganjilan yang mengherankan, walaupun kenyataannya ada sebagian yang tidak patuh menjalankan syari’at-syari’atnya. Disampung meyakini kebenaran ajaran-ajaran Islam, sebagian dari mereka masih percaya adanya hal-hal bersifat takhayul dan magis, misalnya : hantu-hantu jahat, kuntilanak, tenung (menggasing) dsb. […]

Adat Koto Piliang

Secara adat, sistem pemerintahan di Minangkabau dibedakan dalam 2 sistem, yaitu Adat Koto Piliang dan Adat Budi Caniago. Adat Koto Piliang lebih bersifat otokrasi, karena panghulunya tidak berdasarkan pilihan, melainkan menetap pada keluarga tertentu. Pada balai adatnya ada bagian yang ditinggikan yang disebut anjueng. Adat ini banyak dijumpai di daerah Limapuluh Koto dan tanah Datar. […]

Sistem kemasyarakatan suku Batak

Stratifikasi orang Batak dalam kehidupan sehari-hari didasarkan 3 prinsip, yaitu : 1. Perbedaan tingkat umur Hal ini tampak jelas dengan adanya perbedaan hak dan kewajiban terutama dalam upacara adat, dan musyawarah kekerabatan, contohnya : Dalam hal menentukan upacara adat atau urusan kekerabatan, hanya para tua-tua yang berhak mengajukan saran-saran dan mengambil keputusan. Kelompok setengah baya […]

Sistem ekonomi suku Batak

Dahulu, sebagian besar orang Batak hidup dari bercocok tanam pada sawah-sawah, tegalan dan huma (ladang). Yang ditanam adalah padi, palawija, sayuran dan buah-buahan. Padi hanya dapat panen sekali dalam setahun, karena irigasinya belum teratur dan kontinyu. Dalam peladangan orang masih sering membuka hutan dan membakar sisa-sisa kayu dan rantingnya. Sebagian juga ada yang menanam kopi. […]

Penduduk dan pola desa Suku Batak

Pada sensus tahun 1930 jumlah orang Batak di Sumatera Utara diperkirakan 700.000 – 10.000 orang (tidak termasuk yang merantau). Kemudian pada tahun 1968 penduduk beberapa kabupaten di Sumut yang dominan terdiri dari orang Batak telah menjadi kurang lebih 2.806.999 orang. Sebagian besar orang Batak masih tinggal di pedesaan. Dikalangan orang Batak ada beberapa pengertian yang […]

Sistem religi suku Aceh

Menurut sejarahnya, Aceh adalah daerah di Indonesia yang pertama kali masuk agama Islam yang dapat berkembang subur, sehingga berhasil membentuk masyarakat Islam yang kuat dan patuh menjalankan ajaran-ajaran Islam hingga sekarang. Karena itu, segala tingkah laku masyarakat harus disesuaikan dengan unsur-unsur agama/syariah Islam. Agama Islam lebih menonjol dalam segala bentuk dan manifestasinya di dalam masyarakat, […]

Sistem kemasyarakatan Suku Aceh

Struktur masyarakat suku Aceh yang lama didasarkan atas kesatuan-kesatuan teritorial, dari bentuk terkecil sampai dengan terbesar dengan urut-urutan sebagai berikut : 1. Gampong : atau desa 2. Mukim, yaitu gabungan dari desa-desa (lebih bercorak agama). 3. Daerah Ulee Balang (distrik), yaitu gabungan dari mukim-mukim. 4. Daerah Sague (sagi), yaitu gabungan dari mukim-mukim yang lebih luas […]

Sistem kekerabatan Suku Aceh

Bagi masyarakat Aceh, perkawinan adalah suatu keharusan yang ditetapkan oleh agama Islam. Karena itu setiap orang pria maupun wanita yang telah dewasa diwajibkan mencari dan mendapatkan jodohnya. Dalam mencari dan menetapkan jodoh membutuhkan syarat-syarat, antara lain : 1. Mencari jodoh itu adalah pihak orang tua masing-masing. 2. Pemilihan jodoh berdasarkan keturunan dan fungsi sosial dari […]

Kepercayaan penduduk pantai utara Irian Jaya

Secara formal penduduk daerah pantai utara Irian Jaya memeluk agama Kristen. Hal ini berkat usaha Pemerintah Belanda waktu masih menduduki Irian Jaya dengan mendatangkan guru-guru agama dari Ambon. Setiap Minggu mereka pergi ke Gereja, namun tidak semua untuk melakukan peribadatan yang dipimpin oleh guru agama Kristen atau wakilnya yang disebut Pinetua. Mereka nampaknya belum menghayati […]

Lihat Postingan Lainnya