Mengenai kedatangan Islam di Nusantara, terdapat diskusi dan perdebatan yang panjang di antara para ahli sejarah. Mengenai tiga masalah pokok, yakni :
1. Tempat asal kedatangan Islam
2. Para pembawa Islam, dan
3. Waktu kedatangan Islam
Berbagai teori dan pembahasan yang berusaha menjawab tiga masalah pokok ini belum tuntas. Tidak hanya kurangnya data yang dapat mendukung teori tertentu, tetapi juga karena sifat sepihak dari berbagai teori yang ada. Terdapat kecenderungan kuat adanya suatu teori yang hanya menekankan aspek-aspek khusus dari ketiga masalah pokok tersebut, tetapi mengabaikan aspek-aspek lainnya.
Oleh karena itu, kebanyakan teori yang ada dalam segi-segi tertentu gagal menjelaskan kedatangan Islam, konversi agama yang terjadi, dan proses Islamisasi yang terlibat di dalamnya.
Kedatangan Islam di wilayah Nusantara tidaklah bersamaan. Demikian pula, kerajaan-kerajaan dan daerah-daerah yang didatangi mempunyai situasi politik dan sosial budaya yang berlainan. Pada masa Kerajaan Sriwijaya mengembangkan kekuasaannya sekitar abad ke-7 Masehi, dan ke-8 Masehi, selat Malaka mulai dilalui pedagang-pedagang muslim dalam pelayarannya ke negeri-negeri di Asia Tenggara dan Asia Timur.
Berdasarkan Berita Cina pada masa penguasa T’ang, pada masa itu diduga keras masyarakat muslim telah ada, baik di Kanfu (Kanton) maupun di daerah Sumatra sendiri. Perkembangan pelayaran dan perdagangan yang bersifat internasional antara negara-negara di Asia bagian barat dan timur mungkin disebabkan oleh kegiatan kerajaan Islam di bawah Bani Umayah di bagian barat maupun kerajaan Cina pada masa T;ang di Asia Timur serta kerajaan Sriwijaya di Asia Tenggara.
Baca : Puncak kekuasaan Dinasti Bani Umayah
Kepulauan Nusantara juga telah dianggap penting bagi perdagangan antarbangsa sejak zaman purba, karena pulau-pulaunya terletak di sepanjang laut (pantai) yang menghubungkan Cina dan kekuasaan kekaisaran Romawi, kapal-kapal dari berbagai negeri singgah di wilayah Nusantara untuk memuat barang-barang dagangan, seperti rempah-rempah, damar, dan kayu berharga.
Dalam hal ini pula, Taufik Abdullah menjelaskan bahwa wilayah barat nusantara dan sekitar Malaka sejak masa kuno merupakan wilayah yang menjadi titik perhatian, terutama karena hasil bumi yang dijual di sana menarik perhatian para pedagang dan menjadi lintasan penting antara Cina dan India.
Oleh karena itu, pedagang-pedagang muslim asal Arab telah sampai ke kepulauan Nusantara pada abad ke-2 Sebelum Masehi. Hanya mereka menyebutnya sebagai pulau-pulau Cina atau Al-Hind, sehingga tidak mengherankan bila pada tahun 675 M telah terdapat perkampungan Arab Islam di pantai barat Sumatra.
Falsafah India Klasik tentang Raja Adikuasa memberi inspirasi kepada penguasa Indonesia yang berambisi, yang pada saat itu sebenarnya setingkat kepala suku agama Hindu dan Budha yang datang dari India diyakini oleh para penguasa Indonesia hingga rakyatnya.
Hinduisme ini kadang-kadang dapat menggantikan atau bercampur dengan kepercayaan animisme yang semula dianut oleh para nenek moyang bangsa Indonesia. Demikian juga para mubaligh dan pedagang muslim dari Arab yang datang ke wilayah Nusantara memperkenalkan Islam secara damai.
Referensi lain mengenai sejarah masuknya Islam bisa anda baca pada artikel berikut :
1. 2 pendapat masuknya Islam ke Indonesia
2. Sumber eksternal dan internal masuknya Islam di Indonesia
Demikian pembahasan mengenai Teori kedatangan Islam di Indonesia sebelum kemerdekaan, semoga menjadi catatan sejarah Islam nusantara.