Sumber sejarah
Kehidupan politik
- Sri Kesari Warmadewa
- Ugrasena
- Tabanendra Warmadewa
- Jayasingha Warmadewa
- Jayashadu Warmadewa
- Sri Wijaya Mahadewi
- Dharma Udayana Warmadewa
- Marakata
- Anak Wungsu
- Jaya Sakti
- Bedahulu
- Raja berperan sebagai kepala pemerintahan, jabatan raja diwariskan secara turun-temurun.
- Badan penasihat raja disebut “pakirakiran i jro makabehan” yang beertugas memberi nasihat dan pertimbangan kepada raja dalam pengambilan keputusan penting. Badan ini terdiri dari beberapa senapati dan beberapa pendeta agama Hindu (dang acarya) dan Buddha (dang upadyaga).
- Pegawai kerajaan membantu raja dalam bidang pemerintahan, penarikan pajak, dan administrasi.
Keadaan Masyarakat
1. Kehidupan sosial
Pada masa Kerajaan Bali Kuno, struktur masyarakatnya didasarkan pada sistem kasta, sistem hak waris, sistem kesenian, serta agama dan kepercayaan. Ada hal yang menarik dalam sistem keluarga Bali yang berkaitan dengan pemberian nama anak, misalnya Wayan, Made, Nyoman, dan Ketut. Pada golongan brahmana dan kesatria untuk anak pertama disebut Putu. Pemberian nama tersebut diperkirakan dimulai pada zaman Raja Anak Wungsu dan berkaitan dengan upaya pengendalian jumlah penduduk.
2. Kehidupan ekonomi
Kegiatan ekonomi masyarakat Kerajaan Bali adalah bercocok tanam. Hal tersebut dapat diketahui dari beberapa prasasti Bali yang menyebutkan sawah, parlak (sawah kering), gaja (ladang), kebwan (kebun), dan kasuwakan (pengairan sawah).
3. Kehidupan budaya
Pada masa prasasti-prasasti sebelum pemerintahan Raja Anak Wungsu, telah disebut beberapa jenis seni yang ada pada waktu itu. Namun baru pada zaman Raja Anak Wungsu dapat membedakan jenis seni ke dalam dua kelompok besar, yaitu seni keraton dan seni rakyat yang biasanya berkeliling menghibur rakyat. Berikut jenis-jenis seni yang berkembang pada masa itu :
- Patapukan (atapuk/topeng)
- Pamukul (amukul, penabuh gamelan)
- Abanwal (permainan badut)
- Abonjing (bujing musik angklung)
- Bhangin (peniup suling)
- Perbwayang (permainan wayang)










