![]() |
| Sartre |
Novelnya yang lain adalah Le Mur. Novel ini menekankan pada aspek kesadaran di mana manusia mengenali diri mereka sendiri dan adsurditas dari usaha-usaha mereka untuk menghadapi diri mereka sendiri secara rasional.
Manusia adalah semata-mata apa yang dibentuknya sendiri dan memiliki derajat yang lebih tinggi dari makhluk lainnya, karena tidak memiliki kodrat yang sudah ditentukan sebelumnya. Intinya, manusia adalah makhluk yang bebas untuk mewujudkan esensinya sendiri.
Eksistensialisme Sartre lebih merujuk pada kebebasan. Menurutnya, “Human is condemned to be free”, manusia dikutuk untuk bebas. Dalam kebebasan itu, manusia bertindak. Eksistensialisme menekankan kebebasan universal manusia, di mana batasan kebebasan itu adalah kebebasan orang lain.
Pandangan kebebasan Sartre ini memang cukup ekstrem, karena relasi manusia dengan orang lain justru menimbulkan konflik. Namun demikian, tetap ada unsur positif dari pandangan tersebut.
Unsur positif dari kebebasan yang dimaksudkan Sartre tersebut terletak pada eksistensi manusia, keberadaan manusia yang sejati, yang merupakan produk dari perbuatan-perbuatan bebas manusia. Sartre mengungkapkan bahwa menjadi diri kita sendiri hanya mungkin jika kita memilih sendiri dan menentukan sendiri bentuk eksistensi kita.
Walaupun kesadaran atau kebebasan tersebut sepertinya dibebankan pada manusia yang bukan karena pilihannya, manusia tetap memiliki kebebasan yang sebebas-bebasnya untuk mengubah situasi tersebut melalui perbuatan dan usaha yang dipilih serta ditentukan oleh diri manusia, misalnya berupa lingkungan yang uruk dan keras, cacat tubuh, ataupun peperangan, justru menjadi prasyarat bagi kebebasan.
Kebebasan tindak mungkin terwujud tanpa situasi-situasi yang sudah tersedia atau situasi-situasi yang tidak dipilihnya sendiri.
Sartre mendedikasikan hidupnya untuk mengungkap apakah manusia itu. Dedikasinya itu terbukti dengan dihasilkannya banyak tulisan tentang manusia, tidak hanya dalam bidang filsafat namun juga dalam karya novel, roman, drama, dan sebagainya.
Karya-karyanya meyakinkan manusia bahwa mereka adalah makhluk yang menakjubkan. Manusia memiliki kesadaran yang sebebas-bebasnya untuk memaknai keberadaan diri mereka sendiri di dunia.
Lewat karya-karyanya, Sartre mengajak manusia untuk menyadari bahwa kebebasan yang dimiliki manusia sungguh-sungguh absolut. Gagasannya tentang kebebasan menjadikan dirinya dipandang sebagai seorang ateis.
Ingin mengenal Sartre lebih jauh? Silahkan baca Biografi singkat Jean Paul Sartre
Sartre mengatakan : “Seandainya Tuhan ada, tidak mungkin saya bebas”. Ia memandang Tuhan sebagai Tuhan yang Maha tahu. Dia mengetahui segala sesuatu sebelum ia (Sartre) melakukan sesuatu, sehingga tidak ada peluang bagi kreativitas kebebasan manusia.
Demikian sekilas mengenai Eksistensialisme Sartre dalam sastra, semoga menambah pengetahuan kita semua.